Kamis, 28 November 2019

HIERARKI NILAI WAJAR (PSAK 68)

Hierarki Nilai Wajar


Nilai wajar merupakan harga yang akan diterima untuk penjualan aset atau harga yang akan dibayarkan untuk pengalihan liabilitas dalam transaksi teratur antara para pelaku pasar pada tanggal pengukuran.

PSAK 68 ini berusaha untuk meningkatkan konsistensi dan daya banding dalam pengukuran nilai wajar serta pengungkapan terkait melalui hierarki nilai wajar. Pada hierarki nilai wajar ini telah mengkategorikan input yang digunakan dalam teknik penilaian menjadi tiga level. input merupakan asumsi yang digunakan para pelaku pasar dalam penentuan harga aset atau liabilitas. input ini dapat diobservasi atau tidak dapat diobservasi. 

Input yang dapat diobservasi adalah input yang dikembangkan dengan menggunakan data pasar, seperti informasi-informasi yang tersedia untuk publik mengenai transaksi aktual, dicontohkan pada harga di bursa saham yang dapat diamati kapan pun oleh pelaku pasar. 
Sedangkan Input yang tidak dapat diobservasi adalah input yang tidak tersedia data pasar dan yang dikembangkan menggunakan informasi terbaik yang tersedia mengenai asumsi pelaku pasar dalam menentukan harga aset dan liabilitas.

Prioritas tertinggi dari hierarki pengukuran nilai wajar adalah kuotasi dalam pasar aktif untuk aset atau liabilitas dan prioritas terendahnya adalah input yang tidak dapat diobservasi. berikut ini tingkatan dari hierarki nilai wajar yang terdiri dari 3 level diantaranya:
  • Input Level 1
Input ini diambil dari harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang dapat diakses entitas saat tanggal pengukuran, karena harga kuotasian memberikan bukti yang paling andal. sedangkan pasar aktif adalah pasar di mana transaksi aset atau liabilitas terjadi dengan frekuensi yang memadai dalam menyediakan informasi penentuan harga secara berkelanjutan. contohnya harga saham perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia
  • Input Level 2
Input ini diambil dari input selain dari harga kuotasian dalam level 1, yang termasuk dalam input level 2 yaitu, harga kuotasian yang serupa di pasar aktif dan pasar tidak aktif, dan input selain harga kuotasian yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas. misal suku bunga dan kurva imbal hasil yang dapat diobservasi atau credit spread. 
  • Input Level 3

Input level 3 merupakan input yang tidak dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas dan digunakan untuk mengukur nilai wajar, sejauh input yang dapat diobservasi yang relevan tidak tersedia. dalam menentukan input yang tidak dapat diobservasi entitas menggunakan informasi terbaik yang tersedia dalam suatu kondisi. misalnya data yang dihasilkan perusahaan itu sendiri.



Referensi:


Martani, Dwi, dkk. 2015. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK. Jakarta: Salemba

Empat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar